Date : 15 Nov 2016 on 05:35 am | Comments : (1)

BAB II

 

PROFIL PUSKESMAS WONOSARI II

 

  1. I.                RENCANA ORGANISASI

 

  1. LATAR BELAKANG

 

  1. a.     Gambaran Umum

 

  1. Kedudukan Puskesmas

Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian terintegrasi dengan pembangunan bangsa Indonesia secara keseluruhan seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mensejahterakan kehidupan bangsa Indonesia. Tujuan pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan  untuk meningkatkan taraf kesehatan melalui upaya peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap warga negara Indonesia.

Tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan secara menyeluruh, berjenjang, dan terpadu. Ujung tombak utama pembangunan kesehatan di lini terdepan adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas diharapkan dapat menjalankan tugas pelayanan kesehatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya seperti yang tertuang dalam KepMenKes no. 75 tahun 2014 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dinas pada Dinas Kesehatan Kabupaten berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional.

  1. Tugas Pokok dan Fungsi

Tugas pokok dan fungsi Puskesmas Wonosari II menurut PerMenKes no. 75 tahun 2014 dan Peraturan Daerah Kabupaten Klaten  no 12/2008 adalah:

a)      Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

b)      Pusat pemberdayaan masyarakat

c)      Pusat pelayanan kesehatan strata pertama dengan kegiatan

1)      Pelayanan kesehatan perorangan

2)      Pelayanan kesehatan masyarakat

  1. Program dan Kegiatan

Puskesmas dibagi menjadi dua unit besar yaitu Unit Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Unit Kesehatan Perorangan (UKP).

UKM merupakan kelompok fungsional dipimpin oleh seorang koordinator yang mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat dan membawahi bidang pelayanan kesehatan masyarakat (yankesmas). Koordinator UKM mempunyai tugas pokok sebagai berikut:

a.

Mengkoordinir kegiatan yankesmas

b.

Merencanakan pelaksanaan dan pengembangan yankesmas

c.

Merencanakan kebutuhan obat dan alat penunjang yankesmas

d.

Membina kegiatan Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) sehingga tercapai kemandirian masyarakat di bidang yankesmas

 

Koordinator UKP, merupakan unit yang membidangi kesehatan klinik perorangan, memiliki tugas pokok sebagai berikut :

a.

Mengkoordinir kegiatan pelayanan medis (yanmedis) di Puskesmas

b.

Merencanakan pelaksanaan dan pengembangan yanmedis di Puskesmas

c.

Merencanakan kebutuhan obat dan alat kesehatan di Puskesmas

d.

Penanggung jawab seluruh kegiatan yanmedis di Puskesmas beserta jaringannya (puskesmas pembantu, polindes, dan Puskesmas keliling/pusling)

 

b. Gambaran Khusus

  1. 1.      Wilayah Kerja dan Demografi

Puskesmas wonosari II mulai berdiri sejak tahun 1982 dengan luas tanah 800 m2 dan luas bangunan 135 m2 yang merupakan bangunan induk puskesmas. Pada tahun 1990 diadakan perluasan bangunan dengan dibangun rumah dinas dokter dan tenaga paramedis. Pada tahun 2001 dibangun ruang laboratorium dan beberapa ruang lainnya.

Puskesmas Wonosari II berada di Desa Kingkang, Kecamatan Wonosari yang merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 100 – 200 meter dpl. Wilayah kerja Puskesmas Wonosari II seluas 18.321.370 ha, mencakup 9 desa dengan 64 dusun dengan jarak desa terjauh dari puskesmas adalah 7 km, meliputi :

  1. Desa Kingkang dengan 9 dusun
  2. Desa Gunting dengan 10 dusun
  3. Desa Teloyo dengan 8 dusun
  4. Desa Jelobo dengan  7 dusun
  5. Desa Pandanan dengan 9 dusun
  6. Desa Lumbungkerep dengan 6 dusun
  7. Desa Ngreden dengan 6 dusun
  8. Desa Bener dengan 8 dusun
  9. Desa Sidowarno dengan 11 dusun

 

Puskesmas Wonosari II termasuk puskesmas di daerah perbatasan antar kabupaten dengan batas-batas sebagai berikut :

-      Sebelah Utara                      : Kabupaten Sukoharjo

-      Sebelah Selatan        : Wilayah kerja Puskesmas Juwiring

-      Sebelah Barat                       : Wilayah kerja Puskesmas Wonosari I

-      Sebelah Timur                      : Kabupaten Sukoharjo

 

Puskesmas Wonosari II merupakan Puskesmas rawat jalan yang terdiri dari 1 Puskesmas induk, 3 puskesmas pembantu yang berada di desa Gunting, desa Jelobo dan Desa Sidowarno dan 9 Pos Kesehatan Desa di masing-masing desa. Puskesmas Wonosari II memberikan pelayanan meliputi :

  1. Upaya Kesehatan Masyarakat
    1. Program KIA/KB
    2. Program Gizi
    3. Program Promosi kesehatan
    4. Program Kesehatan Lingkungan
    5. Program Pengendalian Penyak
    6. Upaya Kesehatan Perorangan
      1. Pelayanan Pemeriksaan Umum
      2. Pelayanan Pemeriksaan KIA/KB
      3. Pelayanan Pemeriksaan Gigi
      4. Pelayanan Laboratorium
      5. Pelayanan Farmasi
      6. Pelayanan Konsultasi Gizi
      7. Pelayanan Konsultasi Kesehatan Lingkungan

 

  1. MISI

 

Misi Puskesmas Wonosari II adalah :

  1. Pelayanan yang cepat, bermutu dan ramah kepada pelanggan
  2. Mengembangkan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan
  3. Meningkatkan SDM petugas sesuai standard kompetensi
  4. Menciptakan lingkungan yang bersih
  5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan di bidang kesehatan
  6. Meningkatkan dan mengembangkan kemitraan kerja

 

  1. VISI

Visi Puskesmas Wonosari II adalah Prima dalam pelayanan menuju masyarakat Wonosari  yang mandiri untuk hidup sehat

  1. TUJUAN

 

Tujuan yang ingin dicapai oleh Puskesmas Wonosari II adalah memberikan pelayanan kesehatan yang merata dan menyeluruh sehingga tercapai masyarakat Wonosari yang sehat dan sejahtera dengan cara :

1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian

2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan

3. Meningkatnya efisiensi dan efektifitas sumber daya

4. Meningkatnya Kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan

 

 

  1. II.             ANALISIS LINGKUNGAN 

 

  1. Analisis Lingkungan Eksternal

 

  1. 1.      Profil Pengguna Puskesmas Wonosari II

 

Masyarakat yang datang ke Puskesmas Wonosari II berasal dari berbagai kalangan yaitu anak-anak, remaja,  dewasa, lansia, dengan tingkat pendidikan yang bervariasi, dan sosial ekonomi yang berbeda juga.

Pasien yang berkunjung ke Puskesmas bukan hanya berasal dari wilayah kerja Puskesmas Wonosari II, animo masyarakat dari luar wilayah seperti Kecamatan Juwiring, Kecamatan Karangdowo, Kecamatan Pedan dan beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Sukoharjo cukup  tinggi.

Pelayanan kesehatan di Puskesmas Wonosari II meliputi kegiatan Promotif, Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif.

Kegiatan Promotif yang dilakukan antara lain Penyuluhan kesehatan di dalam gedung dan luar gedung, Pembinaan Desa Siaga, Kegiatan UKS, Posyandu balita dan Posyandu lansia.

Kegiatan Preventif diantaranya Penyelidikan Epidemiologi dan Pemantauan Jentik, Survey PHBS, Kelas Ibu Hamil, Pemeriksaan Garam beryodium, Kunjungan rumah pasien TB, Pemeriksaan dan kunjungan rumah pasien dengan penyakit kronis, BIAS, Pemeriksaan berkala anak sekolah .

Kegiatan Kuratif yang dilakukan antara lain Pengobatan rawat jalan dan Puskesling.

Kegiatan Rehabilitatif yang dilakukan adalah Perkesmas

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II 2013-2015

TAHUN

L

P

JUMLAH

2013

16.781

17.301

34.082

2014

17.281

17.908

35.189

2015

17.785

18.593

36.378

 

TAHUN

ANAK

DEWASA

JUMLAH

2013

8.520

25.562

34.082

2014

8.797

26.392

35.189

2015

9.439

26.939

36.378

 

Pertumbuhan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II adalah 3.37 % pertahun. Jumlah penduduk wanita lebih banyak dibandingkan dengan penduduk pria. Jumlah penduduk anak-anak lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk dewasa. Dilihat dari penyebarannya, sebagian besar penduduk bermukim di pedesaan dengan data penduduk terbanyak adalah Desa Sidowarno

Penduduk yang bermukim di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II  pada tahun 2015 digambarkan pada Tabel 1. di bawah ini.

 

Tabel 1. Data Demografi wilayah kerja Puskesmas Wonosari II 2015

No

Desa

KK

Jumlah Jiwa

Laki2

%

Wanita

%

Jumlah

1

Kingkang

 

2583

48,85%

2704

51,15%

5287

2

Gunting

 

1944

50,20%

1928

49,80%

3872

3

Teloyo

 

2416

51.03%

2318

48,97%

4734

4

Jelobo

 

2224

48,81%

2332

51,19%

4556

5

Pandanan

 

1563

47,84%

1704

52,16%

3267

6

Lumbungkerep

 

1661

45,68%

1975

54,32%

3636

7

Ngreden

 

1418

47,76%

1551

52,24%

2969

8

Bener

 

1098

48,20%

1180

51,80%

2278

9

Sidowarno

 

2878

49,80%

2901

50,20%

5779

 

Total

 

17785

48,89%

18593

51,11%

36378

Sumber data: PLKB Kecamatan Wonosari

 

 

Tingkat Pendidikan

 

TINGKAT PENDIDIKAN

2013

2014

2015

 

 

 

 

TK

621

658

691

SD

3625

3759

3923

SLTP

1174

1285

1350

SLTA

2117

2423

2539

DIPLOMA

428

445

462

SARJANA

215

220

230

 

Dari data diatas dapat dilihat tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II terbanyak adalah lulusan SD

Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II sebagian besar belum memahami dan menerapkan pola hidup sehat dan berolah raga teratur, dikarenakan kurangnya pemahaman pada masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat dan terbatasnya waktu karena bekerja. Sehubungan dengan itu maka masih banyak prosentase masyarakat yang sakit.

Dalam melaksanakan peran dan fungsinya Puskesmas Wonosari II menjalin    kerjasama yang baik dengan semua lintas sektoral dan pemangku jabatan di wilayah Kecamatan Wonosari.

Di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II terdapat 29 TK, 24 SD/MI,  2 SMP dan 1 SMK.

 

 

  1. 2.     Peta Pemberian Pelayanan Kesehatan

 

Di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II terdapat 1 Puskesmas induk, 3 Puskesmas Pembantu dan 9 Pos Kesehatan Desa sebagai jaringan puskesmas.

 

 

 

 

 

No

Kelurahan /Desa

Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pustu

PKD

Poskesdes

Lain2 dr/bdn/BP Swasta

1

Kingkang

0

1

0

2

2

Gunting

1

1

0

1

3

Jelobo

1

1

0

2

4

Ngreden

0

1

0

1

5

Teloyo

0

1

0

2

6

Lumbungkerep

0

1

0

0

7

Pandanan

0

1

0

0

8

Bener

0

1

0

0

9

Sidowarno

1

1

0

0

Jumlah

3

9

0

8

 

 

  1. A.   Analisis Lingkungan Internal
    1. Fungsi dan Sumber daya

Puskesmas Wonosari II adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu wilayah kecamatan. Sebagai unit pelaksana teknis, puskesmas melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. Puskesmas berdasarkan kebijakan dasar Pusat Kesehatan Masyarakat ( Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 75 tahun 2014 ) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sistem kesehatan nasional dan sistem kesehatan kabupaten.

Puskesmas memiliki fungsi yang penting dalam mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional. Fungsi penting tersebut antara lain :

  1. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Dalam hal ini puskesmas berupaya menggerakkan lintas sektoral dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan setiap program pembangunan berwawasan kesehatan. Puskesmas harus aktif dalam memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya serta mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan.
  2. Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini puskesmas berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
  3. Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Dalam hal ini puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan dalam bentuk pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Kegiatan Puskesmas Wonosari II terdiri dari kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kegiatan promotif dan preventif yang pernah dilakukan, misalnya

-      Penyuluhan PHBS

-      Kelas ibu hamil

-      Kelas balita

-      Posyandu balita

-      Posyandu lansia

-      Penyuluhan – penyuluhan kesehatan

-      Pelayanan KB

-      Pelayanan imunisasi

Kegiatan kuratif berupa :

  1. Pelayanan Pemeriksaan Umum
  2. Pelayanan Pemeriksaan KIA/KB
  3. Pelayanan Pemeriksaan Gigi
  4. Pelayanan Laboratorium
  5. Pelayanan Farmasi
  6. Pelayanan Konsultasi Gizi
  7. Pelayanan Konsultasi Kesehatan Lingkungan
  8. Pelayanan puskesmas keliling

Kegiatan rehabilitatif, misalnya Perkesmas (Perawatan Kesehatan Masyarakat)

 

Untuk melaksanakan berbagai kegiatan tersebut di atas, Puskesmas Wonosari II didukung oleh berbagai sumber daya strategis. SDM yang ada di Puskesmas ini terdiri dari 1 Kapus, 1 Ka.Sub.Bag.TU, 1 Dokter Umum, 1 Dokter Gigi, 12 bidan, 5 Perawat, 1 Perawat Gigi, 1 Analis, 1 Asisten apoteker, 1 Ahli Gizi, 1 Sanitarian, 7 Petugas Administrasi, 1 Pengemudi, 1 Cleaning Servis, 1 Penjaga. 

Jumlah Pegawai menurut Status Kepegawaian Puskesmas Wonosari II  seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 2. berikut ini:

NO

JABATAN

PNS

PHL / PTT

JUMLAH

1

Kepala Puskesmas

1

0

1

2

Kepala TU

1

0

1

3

Dokter Umum

1

0

1

4

Dokter Gigi

1

0

1

5

Sanitarian

1

0

1

6

Perawat

5

0

5

7

Perawat Gigi

1

0

1

8

Bidan

8

4

12

9

Petugas Gizi

1

0

1

10

Analis Laborat

1

0

1

11

Pengelola Obat

1

0

1

12

Fisioterapi

0

0

0

13

Staf

5

2

7

14

Penjaga Malam

0

1

1

15

Cleaning Service

0

1

1

16

Pengemudi

0

1

1

 

Jumlah

27

9

36

 

Data di atas menunjukkan kurangnya tenaga dokter yang bekerja di Puskesmas Wonosari II. Tenaga dokter yang dibutuhkan minimal 2 (dua orang) dengan pembagian kerja 1 dokter melayani Puskesmas Induk dan 1 dokter melayani pasien di Puskesling/luar gedung secara terjadwal. Pasien rawat jalan di BP Umum Puskesmas Wonosari II rata-rata 50 pasien per hari. Jumlah pasien sebanyak itu secara ideal dilayani oleh minimal 2  dokter sesuai dengan Keputusan Menkes tentang Penetapan Angka Kredit Dokter dimana seorang Dokter maksimal melayani 27 pasien di Puskesmas dalam satu hari kerja.

Jumlah sumber daya manusia yang diperlukan dalam melaksanakan operasional di Puskesmas Wonosari II perlu untuk diperhitungkan ulang dan dilakukan analisis jabatan sesuai dengan peraturan yang ada. Hal ini perlu dilaksanakan mengingat Puskesmas Wonosari II merupakan Puskesmas yang memiliki tanggung jawab pembangunan kesehatan di Kecamatan Wonosari. Selain itu tenaga administrasi juga dirasakan sangat kurang, karena tenaga administrasi diperbantukan di pendaftaran yang berurusan dengan rekam medis dan diperbantukan pula di bagian obat. Selain itu belum adanya tenaga akuntan di Puskesmas Wonosari II, dimana untuk bendahara sebagian ada yang diambilkan dari tenaga fungsional khusus yang belum mendapatkan pelatihan keuangan.

      Sedangkan Komposisi ketenagaan berdasarkan jenis ketenagaan saat ini  74,28 % tenaga di Puskesmas  adalah PNS,  11.43 % adalah PTT dan 14,29 % sebagai tenaga Kontrak.

 

  1. Sarana dan Prasarana Puskesmas Wonosari II

Puskesmas Wonosari II  terdiri dari satu kompleks Puskesmas Induk dan memiliki 3 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) yang berlokasi di :

1)        Desa Gunting, pelayanan setiap hari pada jam kerja

2)        Desa Jelobo, pelayanan setiap hari pada jam kerja

3)        Desa Sidowarno, pelayanan setiap hari pada jam kerja

Puskesmas Induk Wonosari II memberikan pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berupa poliklinik yang buka setiap hari pada jam kerja dengan pelayanan Simpus  yaitu:

1)      Klinik Umum

2)      Ruang Gawat Darurat

3)      Klinik Gigi

4)      Klinik Kesehatan Ibu, Anak dan KB

5)      Klinik Konsultasi Gizi

6)      Klinik Sanitasi

7)      Klinik Imunisasi

Poliklinik yang ada ditunjang oleh unit penunjang yaitu:

1)        Rekam Medis dan Pendaftaran on line internal Puskesmas Wonosari II (Simpus)

2)        Laboratorium

3)        Apotik dan Gudang Farmasi on line internal Puskesmas Wonosari II (Simpus)

4)        Kasir

5)        Ketatausahaan

Puskesmas Wonosari II  membina 53 Posyandu, terdiri dari 45 Posyandu Balita dan 8 Posyandu lansia yang tersebar di seluruh wilayah kerja Puskesmas Wonosari II. Kegiatan Posyandu diisi dengan kegiatan penimbangan, PMT, penyuluhan kesehatan dan pengobatan penyakit. Pembinaan Posyandu dilaksanakan oleh petugas terkait dengan dibantu oleh Bidan Desa  masing-masing. Setiap Desa di Puskesmas Wonosari II ditempatkan Bidan Desa di masing-masing Polindes dan  sangat dirasakan keberadaannya, karena Bidan Desa dimaksud bertanggung jawab di daerah binaannya masing-masing. Selain itu, Puskesmas Wonosari II juga memiliki fasilitas pendukung berupa 1 Mobil ambulance, 10 Kendaran operasional roda dua.

Masalah utama yang dihadapi dalam pengelolaan sarana Puskesmas Induk dan Pustu saat ini adalah semakin berkurangnya tenaga dan masalah pemeliharaan gedung maupun kesehatan lingkungan bangunan. Puskesmas sebagai instansi kesehatan seharusnya menjadi teladan dalam masalah pemeliharaan kesehatan lingkungan tempatnya berada. Dana yang disediakan oleh Pemda Kabupaten Klaten  melalui Dinas kesehatan sangat kecil dalam membiayai kegiatan ini. Oleh karena itu Puskesmas perlu untuk merencanakan kegiatan ini melalui penggunaan dana operasionalnya yang berasal dari pendapatannya.

 

  1. Hasil Pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan

Kunjungan pasien rawat jalan Puskesmas Wonosari II tiga tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3. berikut ini:

 

Tabel 3. Kunjungan Pasien Puskesmas Wonosari II  2013 - 2015

Jenis Kunjungan

2013

2014

Trend

2015

Trend

BP Umum

32709

35522

 

37068

 

BP Gigi

2212

2508

 

2989

 

KIA

2234

2478

 

2897

 

Laboratorium/penunjang

834 

990

 

1081 

 

 

37155

41498

 

42954

 

Sumber Data Puskesmas Wonosari II

 

Kunjungan pasien di Puskesmas Induk, Pustu, PKD masih didominasi kunjungan di BP Umum , BP Gigi  dan BP KIA . Tabel 3. di atas menunjukkan bahwa kunjungan kasus di Puskesmas Wonosari II cenderung naik. Pasien di BP umum cenderung meningkat dikarenakan banyaknya pasien dari luar wilayah kerja Puskesmas Wonosari II dan banyaknya pasien BPJS yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pemeriksaan di Laboratorium belum signifikan dikarenakan peralatan laboratorim yang sangat terbatas.

Kasus yang berkunjung di Puskesmas Wonosari II sangat bervariasi. Data diagnosis penyakit 10 besar di Puskesmas Wonosari II ditunjukkan pada Tabel 4. di bawah ini.

 

 

 

 

Tabel 4. Diagnosis 10 Besar Penyakit di Puskesmas Wonosari II

Tahun 2014 – 2015

No

Diagnosis

2014

%

2015

1

ISPA

2846

17,57%

2458 (3)

2

Influenza

2778

17,15%

3563 (1)

3

Myalgia

2061

12,73%

1851 (5)

4

Dermatitis

1949

12,03%

2700 (2)

5

Hipertensi

1708

10,55%

2121 (4)

6

Rhematoid artritis lain

1420

8,77%

1528 (6)

7

Gastritis

        1138

7,04%

1187 (7)

8

Demam

994

6,15%

    1011 (8)

9

Cephalgia

        791

4,88%

    844 (9)

10

Pulpitis / caries

506

3,13%

    514 (10)

 

 

16191

100,0%

 

Sumber Data: Simpus Puskesmas Wonosari II

 

Data Tabel 4. menunjukkan adanya perubahan peringkat 10 besar penyakit. Penyakit Influenza menunjukkan peringkat 1 dikarenakan adanya perubahan cuaca. Penyakit hipertensi, memerlukan peningkatan skrining dan keterpaduan pelayanan kepada kelompok usia yang berisiko tinggi mengalami penyakit tersebut yaitu kelompok lansia. Oleh karena itu, penyelenggaraan klinik lansia yang terpadu dengan program lain, misalnya Program Gizi, untuk Puskesmas Wonosari II perlu untuk segera direalisasikan.

Data di atas menunjukkan bahwa kesehatan mulut dan saluran pernafasan atas menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna yang dapat diasumsikan bahwa kesehatan gigi, mulut, dan saluran nafas atas perlu diperhatikan secara lebih mendalam agar penyakit-penyakit tersebut dapat dikendalikan. Diseyogyakan bahwa program penyuluhan dan pencegahan penyakit tersebut perlu lebih didesiminasikan kepada masyarakat. Diharapkan dengan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit tersebut, akan lebih meningkatkan kepedulian terhadap kejadian penyakit.

Kunjungan pasien lanjut usia/lansia (≥60 tahun) di Puskesmas Wonosari II cenderung tinggi yaitu berkisar 7,45% pada tahun 2015 meningkat dari pada tahun 2013 (4.94%). Data kunjungan lansia ditunjukkan pada Tabel 5. dibawah ini.

Tabel 5. Kunjungan Pasien Berdasar Kelompok Umur di Puskesmas Wonosari II

Tahun 2013 – 2015

No

Kelompok Umur

 

 

2013

2014

2015

 

1

0 - < 1 th

1967

2447

2452

 

2

1 - 4,99 th

3039

3600

3636

 

3

5 - 8,99 th

2619

2820

2991

 

4

9 - 14,99 th

3120

3520

3915

 

5

15 – 19,99 th

       4651

4226

4372

 

6

20-44 th

9268

9688

9833

 

7

45-54 th

6932

7408

7695

 

8

55-59

3721

4633

4858

 

9

> = 60 th

1838

3156

3202

 

 

Jumlah

37155

41498

42954

 

Sumber Data: Simpus Puskesmas Wonosari II

 

Tabel 5. di atas menunjukkan bahwa pasien lansia di Puskesmas Wonosari II meningkat cukup besar dari tahun 2013 sampai 2015. Keadaan ini mendukung pula perubahan pola penyakit dimana terdapat tiga penyakit degeneratif yang menempati rangking dalam 10 besar penyakit di Puskesmas Wonosari II 2015. 

Kunjungan pasien anak di Puskesmas Wonosari II berkisar 6.088 pada tahun 2015. Pasien Balita adalah pasien yang mempunyai kerawanan yang lebih tinggi untuk mengalami infeksi nosokomial dan oleh karena itu seharusnya memerlukan pelayanan tersendiri. Puskesmas Wonosari II berupaya untuk kedepannya akan merintis pelayanan kepada anak-anak secara khusus melalui poliklinik anak, sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan RI untuk memberikan pelayanan yang terpadu kepada pasien balita dengan program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), namun kurangnya tenaga kesehatan menyebabkan program MTBS belum bisa dilaksanakan pada setiap balita. Sasaran MTBS di Puskesmas Wonosari II tahun 2016 ini ditargetkan dapat dilaksanakan pada setiap balita yang dilayani pada poliklinik anak.

Puskesmas Wonosari II saat ini memiliki Tim Peningkatan Mutu Pelayanan Puskesmas. Dimana saat ini kinerja Tim tersebut dalam melaksanakan tugasnya masih sangat antusias. Hal ini dapat ditunjukkan angka kunjungan di Puskesmas Wonosari II menunjukkan peningkatan, sehingga dari tahun ke tahun  mutu pelayanan semakin ditingkatkan. Namun demikian, penjagaan mutu harus selalu dilaksanakan mengingat dengan kemajuan ilmu teknologi dan keterbukaan informasi mempengaruhi tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan yang baik sesuai standar yang berlaku.

Hasil audit internal yang dilakukan pada semester ke-2 tahun 2015 terdapat beberapa temuan minor yang apabila tidak ditindaklanjuti dengan baik dapat menimbulkan risiko di masa datang. Hasil audit tersebut adalah:

  1. Tidak ada dokumentasi pemeriksaan rekam jantung (EKG). Hal ini akan mempersulit pelacakan pasien yang telah dilaksanakan pemeriksaan EKG.
  2. Terdapat alat tensimeter dan stetoskop yang tidak laik pakai di BP Umum. Hal ini dapat menimbulkan risiko bahaya salah pengukuran pada pasien sehingga dapat melanggar prinsip patient safety. Oleh karena itu alat ukur perlu dilakukan pemeliharaan rutin termasuk kalibrasi meskipun biaya yang dibutuhkan cukup banyak.
  3. Tidak tersedia alat transportasi pasien UGD seperti dragbar atau kursi roda untuk pasien difabel. Meskipun demikian, dragbar yang tersedia pada mobil ambulans/puskesmas keliling dapat digunakan apabila dibutuhkan.
  4. Gudang farmasi masih menyatu dengan ruang pelayanan obat, sehingga ada beberapa obat yang diletakkan di dalam/di atas almari etalase yang terlalu lembab. Situasi ini dapat membahayakan obat yang terkena kelembaban yang berlebihan yang berakibat rusaknya obat sehingga dapat mempengaruhi kualitas obat yang mengakibatkan efektifitas obat menurun dan bahkan dapat membahayakan pasien.
  5. Terdapat preparat bekas pemeriksaan pasien yang tidak segera dicuci. Hal ini dapat menimbulkan risiko pencemaran maupun kasus nosokomial dan penularan kepada petugas kesehatan itu sendiri.

Penemuan-penemuan tersebut telah ditindaklanjuti sehingga diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan di Puskesmas Wonosari II.

 

  1. Pelayanan Gawat Darurat

Pelayanan Gawat Darurat di Puskesmas Wonosari II sudah mempunyai ruang tindakan tersendiri namun belum representatif dan memenuhi standar. Ruang Gawat Darurat menjadi satu dengan ruang pemeriksaan, sehingga menimbulkan kendala pada saat pemeriksaan.

Kejadian kasus gawat darurat di Puskesmas Wonosari II tahun 2015 ditunjukkan Tabel. 6 berikut ini :

Tabel. 6

Kunjungan Gawat Darurat di Puskesmas Wonosari II tahun 2015

Kasus

Jumlah

Luka Lecet

55

Luka Robek

25

Avulsi kuku

6

Corpus alienum

10

Syncope

5

Jumlah

101

Sumber Data: Simpus  Puskesmas Wonosari II

 

Tabel 6 di atas menunjukkan kasus terbanyak adalah kasus trauma yang menyebabkan terjadinya luka lecet, luka robek dan corpus alienum. Kejadian ini dapat diantisipasi di Puskesmas Wonosari II mengingat peralatan bedah minor yang ada cukup lengkap. Namun demikian keterbatasan pelayanan diakibatkan oleh terbatasnya tenaga, kompetensi tenaga dan status puskesmas sehingga terkadang kasus gawat darurat tak dapat terlayani dengan optimal.

 

 

  1. Kepuasan Pelanggan

Pelayanan kesehatan saat ini sudah menjadi salah satu komoditas dalam jasa pelayanan sehingga para pengguna jasa pelayanan kesehatan pun saat ini mulai menuntut pelayanan yang terbaik dalam upaya mencari pelayanan kesehatan. Sejalan dengan tuntutan masyarakat tersebut serta peningkatan akuntabilitas pelayanan publik, kebijakan pemerintah tentang pendayagunaan aparatur negara bidang pelayanan publik yang diatur melalui  KepMenPAN No 81/1995 dan KepMenPAN No Kep/25/M.Pan/2/2004 serta Lampiran PerMenPan Nomor 7/2010yang mengatur tentang pelayanan publik,  maka perlu dilakukan survei untuk mengetahui tingkat kepuasan pelayanan publik serta tanggapan dan masukan masyarakat tentang pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Wonosari II, Kab. Klaten

Hasil survei kepuasan pelanggan yang dilakukan secara internal oleh Puskesmas pada bulan Desember 2014 menunjukkan bahwa secara umum pelanggan puskesmas merasa puas mendapat pelayanan di Puskesmas Wonosari II. Hasil survey tersebut sebagai berikut:

  1. Tingkat kepuasan responden di ruang tunggu sebesar :37 % menyatakan sangat puas,  50 %  menyatakan puas, 13 %  menyatakan cukup puas, 0 %  menyatakan tidak puas dan tidak ada  yang menyatakan sangat tidak puas di ruang tunggu pasien Puskesmas Wonosari II.
    1. Tingkat kepuasan responden di tempat pendaftaran sebesar: 35 % menyatakan sangat puas, 54 %  menyatakan puas, 1 %  menyatakan cukup puas, 0 %  menyatakan tidak puas dan tidak ada  yang menyatakan sangat tidak puas di tempat pendaftaran Puskesmas Wonosari II
    2. Tingkat kepuasan responden dilayani oleh dokter umum di BP Umum Puskesmas Wonosari II sebesar: 32 %  menyatakan sangat puas, 58 %   menyatakan  puas,  10 %  tidak  memberi  jawaban,  dan  tidak   ada    yang menyatakan   tidak   puas   maupun  sangat tidak puas .
    3. Tingkat kepuasan responden dilayani dokter gigi di Puskesmas Wonosari II sebesar : 30 %  menyatakan sangat puas, 70 %  menyatakan puas, dan tidak ada  yang menyatakan cukup puas,  tidak puas dan sangat tidak puas.
    4. Tingkat kepuasan responden dilayani perawat / perawat gigi di Puskesmas Wonosari II sebesar: 25 %  menyatakan sangat puas,  75 %  menyatakan puas, dan tidak ada   yang menyatakan cukup puas,  tidak puas dan sangat tidak puas.
    5. Tingkat kepuasan responden di KB / KIA Puskesmas Wonosari II sebesar : 50 %  menyatakan sangat puas, 50 %  menyatakan puas, tidak ada yang  menyatakan cukup puas,  tidak puas dan sangat tidak  puas di KIA / KB.
    6. Tingkat  kepuasan  responden di ruang obat atau  dilayani  oleh  petugas obat Puskesmas Wonosari II  sebesar:    30 %  menyatakan  sangat  puas,     70 % menyatakan puas, tidak ada yang menyatakan cukup puas, tidak puas dan sangat tidak puas.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelayanan di Puskesmas Wonosari II telah cukup baik menurut pelanggan. Namun demikian para pasien  memberikan beberapa masukan lewat kotak saran kepada Puskesmas Wonosari II yaitu:

  1. Sejumlah 25 %  responden menginginkan peningkatan pelayanan
  2. Sejumlah 18 % responden memberi saran untuk mempertahankan pelayanan
  3. Sejumlah 7 % memberi harapan agar dapat menjadi puskesmas Rawat inap
  4. Sejumlah 15 % menginginkan penambahan sarana prasarana ( AC ) ditempat ruang tunggu dan ruang pemeriksaan
  5. Sejumlah 30 % menginginkan pemeriksaan KIA dipisahkan dengan poliklinik yang lain

Beberapa masukan perlu diperhatikan namun beberapa usulan tidak mungkin dipenuhi karena keterbatasan Puskesmas Wonosari II misalnya peningkatan status puskesmas menjadi puskesmas rawat inap yang menjadi kewenangan instansi atasan Puskesmas Wonosari II.

 

 

 

 

  1. 6.      Upaya Kesehatan Masyarakat
  2. a.      Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

a.1 Program Kesehatan Ibu dan Anak

Program Kesehatan Ibu dan Anak merupakan program yang strategis dan menjadi fokus utama dalam upaya pembangunan kesehatan. Hal ini disebabkan karena proses tumbuh kembang manusia sebagian besar ditentukan pada saat manusia dalam kandungan dan usia anak terutama balita. Oleh karena itu Program KIA menjadi salah satu program prioritas di Puskesmas Wonosari II pada khususnya dan Kabupaten Klaten pada umumnya. Hasil kegiatan Program KIA ditunjukkan pada Tabel 7. berikut ini.

Tabel 7 PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT PUSKESMAS WONOSARI II 2015

No

Desa

Sasaran

K1

(%)

K4

(%)

Risti (20% bumil)

Linakes

Bumil

Bulin

Bayi

Nakes

Masy

1

Kingkang

69

68

66

100

100

    36,23

        0

100

2

Gunting

48

50

50

100

100

72,92

0

100

3

Teloyo

83

80

80

100

92,98

42,17

0

       100

4

Jelobo

86

79

78

100

   92,68

46,51

0

100

5

Pandanan

50

48

48

100

92,16

80,00

0

100

6

Lumbungkerep

43

42

42

100

100

93,02

0

100

7

Bener

38

32

32

100

92,86

65,79

0

100

8

Ngreden

53

43

45

100

90,48

56,60

0

100

9

Sidowarno

80

82

82

100

90,48

56,25

0

100

 

Puskesmas

550

524

523

100

96,15

57,27

0

100

Sumber Data: Program KIA Puskesmas Wonosari II

 

Tabel 7. di atas menunjukkan bahwa capaian Kunjungan 1 (K1) memenuhi target di atas 95% pertahun (100%). Target Kunjungan 4 (K4) bumil di Puskesmas Wonosari II juga telah memenuhi target 85% (capaian 96,15%). Pemeriksaan bumil risti pada tahun 2015 mencapai 57,27% (314 kasus). Hal ini menunjukkan skrining bumil risti dapat mencapai sasaran yang ditetapkan. Kejadian bumil risti yang di atas target menunjukkan risiko terjadinya gangguan bumil dan janinnya lebih besar dan dapat mempengaruhi kualitas kehamilan. Data ini dapat menjadi pijakan awal bagi puskesmas untuk menyusun program yang bertujuan meningkatkan kualitas kehamilan maupun outcome dari kehamilan. Hal ini untuk menjaga agar semua bumil dapat dilakukan skrining sejak awal sehingga dapat dideteksi seawal mungkin apabila mengalami risiko kehamilan sehingga dapat diberikan tatalaksana yang sesuai, agar dapat melaksanakan masa kehamilan, masa persalinan, dan masa menyusui dengan aman, sehat, dan optimal.

Risiko tinggi bumil yang sering terjadi adalah anemia (kurangnya kadar hemoglobin dari standar 12 gr%). Anemia pada ibu hamil sering terjadi dengan beberapa mekanisme yaitu:

a)      Ibu sejak awal telah menderita anemia karena berbagai sebab

b)      Terjadinya hemodilusi pada ibu hamil yang merupakan proses fisiologis pada kehamilan.

Anemia yang terjadi pada ibu hamil ditunjukkan pada Tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Anemia Ibu Hamil di Wonosari II tahun 2015

 

No

Desa

Bumil

Anemia

%

 
 

1

Kingkang

69

13

14,7

 

2

Gunting

48

9

14,7

 

3

Teloyo

83

15

17,2

 

4

Jelobo

86

23

28,2

 

5

Pandanan

50

7

16,3

 

6

Lumbungkerep

43

2

3,7

 

7

Bener

38

11

33,3

 

8

Ngreden

53

2

3,6

 

9

Sidowarno

80

26

36,7

 

 

Puskesmas

550

108

18,8

 

 

Tabel 8 di atas menunjukkan tingginya semua kasus anemia bumil dimana tolok ukur yang dipakai antara lain anemia berat, tinggi badan, ukuran panggul dan grande multipara.. Hal ini perlu diantisipasi dan ditindaklanjuti kembali mengingat bahwa kualitas output kehamilan sangat dipengaruhi kualitas ibu saat hamil.

Pembangunan kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu tolok ukur dalam tujuan pembangunan milenium (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditargetkan tercapai tahun 2020. Indikator mortalitas KIA ditunjukkan pada Tabel 9. di bawah ini.

Tabel 9. Tabel Indikator Mortalitas KIA

Uraian

2014

2015

Trend

Bumil

560

550

 

Bayi

550

523

 

Kematian Ibu

0

1

 

Kematian Bayi

3

4

 

Kelahiran Hidup

550

523

 

Sumber : Data KIA Puskesmas Wonosari II  2013 - 2014

 

Data Tabel 9. di atas menunjukkan bahwa angka kematian ibu meningkat sejak tahun 2014 sampai 2015. Tidak terpenuhinya cakupan tindak lanjut bumil risti dapat berperan pada kejadian kematian ibu dan bayi. Hal ini perlu diantisipasi dengan menerapkan perencanaan kegiatan sehingga dapat diarahkan untuk mengatasi hal tersebut. Angka kematian Bayi juga terus meningkat dari tahun 2014 sampai 2015. Kejadian ini sebenarnya dapat diprediksikan sesuai dengan peningkatan risiko tinggi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas. Kasus kematian bayi perlu pula ditindaklanjuti dengan meningkatkan dan memperbaiki kualitas kunjungan neonatal di Puskesmas Wonosari II.

 

a.2 Program Imunisasi

Program imunisasi merupakan program yang menumpukan pada pencapaian hasil jangka panjang yaitu dengan tujuan penurunan kejadian penyakit di masa datang dengan memberikan perlindungan kepada balita. Program ini memberikan perlindungan yang kontinyu dan perlu dilaksanakan secara terus menerus kepada balita sesuai dengan program yang telah direkomendasikan. Kegiatan ini tidak akan menunjukkan hasil kegiatan dalam jangka pendek sehingga sering disangka bahwa pencapaian program imunisasi tidak memberikan dampak yang memadai. Namun, sebenarnya dampak yang akan dirasakan adalah penurunan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit yang dapat dicegah pada masa mendatang.

Data hasil kegiatan imunisasi dapat dilihat pada Tabel.11 di bawah ini. Tabel di bawah merupakan data hasil pelayanan imunisasi di Puskesmas Wonosari II dan jaringannya serta laporan pelayanan imunisasi oleh instansi kesehatan swasta yang ada di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II.

 

Tabel 11 Data Hasil Imunisasi di Wilayah Puskesmas Wonosari II 2015

Desa

Sasa

ran

BCG

Cak

%

Polio

Cam pak

Cak

HB

Cak

Penta valen II

Cak

Penta Valen III

Cak

1

Cak

%

4

Cak

%

Kingkang

66

66

100

66

71,7

81

89

84

92,3

66

71,7

77

84,6

82

89,0

Gunting

50

50

100

50

100

55

98,2

59

105,4

50

89,3

78

97,5

55

98,2

Teloyo

80

80

100

80

100

78

97,5

79

98,8

80

100

78

97,5

78

97,5

Jelobo

78

78

100

78

100

72

92,3

66

71,7

78

100

64

82,1

72

92,3

Pandanan

50

48

96,0

48

96,0

51

102,0

53

106,0

48

96,6

52

104

51

102,0

Lumbungkerep

45

45

100

45

100

37

82,2

48

106,7

45

100

41

91,1

31

82,2

Bener

36

31

86,1

30

83,3

34

94,4

34

94,4

31

86,1

33

91,7

34

94,4

Ngreden

60

44

73,3

44

73,3

50

83,3

54

90

44

73,3

50

83,3

50

83,3

Sidowarno

82

82

100

82

126,2

69

106,2

70

107,7

82

126,2

74

113,8

69

106,2

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II 2015

 

Tabel hasil pelayanan di atas menunjukkan bahwa semua desa di Wonosari II mencapai UCI (Universal Child Immunisation), Namun demikian perlu diperhatikan adalah terjadinya kasus penyakit yang dapat dicegah imunisasi yang ditunjukkan dengan Tabel 12 di bawah ini.

 

 

Tabel 12 Kejadian Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi

di Kecamatan Wonosari II  tahun 2015

No

Desa

CAMPAK

TB Anak

TB PARU

HEPATITIS

1

Kingkang

1

0

0

0

2

Gunting

0

0

2

0

3

Teloyo

1

0

0

0

4

Jelobo

0

2

2

0

5

Pandanan

0

0

0

0

6

Lumbungkerep

0

1

1

0

 7

Bener

0

0

0

0

 8

Ngreden

0

0

0

0

 9

Sidowarno

2

0

0

0

 

 

 

 

 

 

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II 2015

 

Tabel 12 di atas menunjukkan masih adanya kejadian-kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kecamatan Wonosari II. Sesuai dengan data yang ada diketahui bahwa campak yang terjadi adalah campak jerman yang imunisasinya tidak termasuk imunisasi dasar. Data tentang terjadi penyakit TB pada anak (sering disebut PKTB) perlu diwaspadai adanya sumber penularan di sekitar penderita mengingat masih rendahnya penemuan kasus TB Paru dengan BTA (+) yang merupakan stadium yang dapat menularkan bakteri TB paru. Oleh karena itu kegiatan surveilens penyakit TB pada anak harus dikerjakan berupa penyelidikan epidemiologi untuk mendeteksi sumber penular dan mengobatinya sehingga tidak menjadi sumber penular bagi anak lain. Namun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa imunisasi TBC pada bayi menemui hambatan sebab imunisasi yang diberikan dapat mencegah namun dapat juga hanya meringankan apabila anak terinfeksi TBC.

Kejadian penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi menjadi rambu-rambu penting untuk meningkatkan kualitas imunisasi. Pencatatan, pemantauan penyimpananan dan pelayanan imunisasi baik oleh petugas Puskesmas maupun petugas kesehatan swasta perlu selalu dilaksanakan dengan teratur dan cermat. Pengadministrasian kegiatan dan hasil pemantauan harus dapat dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu perlu disediakan dana dan fasilitas pemantauan misalnya supervisi kepada penyelenggara imunisasi swasta di tempat layanan atan suatu pertemuan peningkatan mutu layanan.

 

  1. b.      Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

Wilayah kerja Puskesmas Wonosari II dikenal sebagai daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD). Kejadian penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II, kasus diare menempati rangking pertama kasus penyakit menular, sedangkan kasus DBD menempati rangking ketiga Tingginya kasus diare dan typhus mengindikasikan adanya permasalahan dalam penularan penyakit bersumber pencemaran air dan tanah oleh bakteri penyebab penyakit. Hal ini perlu diwaspadai sebab penyakit yang termasuk water born dan soil born disease diketahui dapat dengan cepat menular akibat masalah perilaku, higiene dan sanitasi lingkungan penderita. Oleh karena itu penanganan penyakit menular tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas P2M saja melainkan perlu menjalin kerjasama dengan lintas program utamanya Program Kesehatan Lingkungan dan Program Promosi Kesehatan.

Kejadian DBD di wilayah Wonosari II meningkat sangat tinggi pada akhir tahun 2014 samapai pada puncaknya bulan April 2015. Peningkatan ini seiring dengan peningkatan kasus yang terjadi di Kabupaten Klaten.

Kegiatan upaya pemberantasan DBD dilakukan dengan 4 strategi, yaitu

a)        Pengamatan dan pemberantasan vektor

b)        Pengamatan dan pengelolaan kesehatan lingkungan penderita dengan upaya penyelidikan epidemiologi dan penyuluhan kesehatan lingkungan kepada keluarga penderita.

c)        Penggalangan kerjasama lintas sektor dengan melaksanakan kerjasama melalui Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD tingkat Kecamatan Wonosari

d)       Peningkatan pengetahuan masyarakat terutama tokoh masyarakat setempat melalui penyuluhan

Hasil pengamatan vektor DBD ditunjukkan pada Tabel 13. di bawah ini.

Tabel 13. Angka Bebas Jentik di Kecamatan Wonosari II Tahun 2015

NO

DESA

JML RMH DIPERIKSA

RMH NEG JENTIK

ABJ ( % )

1

Kingkang

150

145

97

2

Gunting

75

65

87

3

Teloyo

150

104

69

4

Jelobo

90

83

92

5

Pandanan

90

52

58

6

Lumbungkerep

75

73

97

7

Bener

90

79

88

8

Ngreden

90

78

87

9

Sidowarno

93

91

98

JUMLAH

 

903

770

85,27

Sumber : Data Puskesmas Wonosari II 2015

 

Tabel 13. di atas menunjukkan bahwa secara umum ABJ di Kecamatan Wonosari II belum memenuhi harapan sebesar >95%. Rendahnya ABJ akan meningkatkan risiko penularan DBD yang ditularkan oleh nyamuk A. aegypty. Nyamuk A. aegypty juga dikenal sebagai vektor penyakit Demam Chikungunya.

Upaya pencegahan penyakit DBD diarahkan pada upaya penekanan populasi nyamuk vektornya. Upaya yang terpilih karena aman, mudah, dan efektif adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Namun demikian PSN kurang populer di masyarakat dikarenakan PSN mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya:

  1. Tidak memberikan dampak segera yang dapat diamati dan dinikmati masyarakat secara langsung
  2. Perlu pelaksanaan serentak di seluruh wilayah
  3. Perlu kedisiplinan, kontinuitas dan keteraturan yang tinggi

Keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat dirasakan tidak nyaman bagi warga dan menurunkan motivasi PSN. Namun demikian, PSN mempunyai banyak keunggulan diantaranya:

  1. Proses pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat mau dan mampu terlibat dalam upaya pembangunan kesehatan
  2. Murah karena tidak memerlukan berbagai bahan
  3. Aman karena tidak menggunakan zat racun yang berbahaya bagi kesehatan
  4. Mudah karena kegiatan PSN sebenarnya adalah kegiatan rutin sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membutuhkan waktu pelaksanaan tertentu, hanya perlu keteraturan dan kecermatan
  5. Efektif karena dapat memberantas telur dan larva nyamuk sehingga memutus rantai hidup nyamuk

Oleh karena pertimbangan-pertimbangan di atas, perlu sosialisasi, koordinasi dan penggalangan kegiatan untuk lebih memperkenalkan dan mengintensifkan PSN. Hal ini disadari memerlukan upaya yang tak berkesinambungan dan jangka waktu yang lama mengingat hal utama yang perlu diintervensi adalah perilaku masyarakat.

Kejadian DBD selalu ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi (PE) kasus dan Pemantauan Jentik (PJ) di lingkungan tempat tinggal penderita. Kejadian DBD dan ABJ tempat tinggal penderita ditunjukkan pada Tabel 14. di bawah ini.

 

Tabel 14. Kejadian DBD dan ABJ Rumah Kasus

di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II Tahun 2015

NO

DESA

KASUS DB

ABJ ( % )

1

Kingkang

1

96,60

2

Gunting

2

96,60

3

Teloyo

1

96,60

4

Jelobo

0

100

5

Pandanan

0

100

6

Lumbungkerep

0

100

7

Bener

1

94,11

8

Ngreden

2

96,80

9

Sidowarno

9

93,30

 

JUMLAH

16

96,30

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II Tahun 2015

 

 

Kejadian DBD semester I tahun 2015 ditunjukkan pada Tabel 15. berikut ini.

 

 

Tabel 15. ABJ dan Kejadian DBD di Puskesmas Wonosari II

Semester I tahun 2015

No

Desa

Rumah/Bangunan Bebas Jentik

Kejadian DBD

JUMLAH

%

Jumlah

1

2

3

4

5

1

Kingkang

29

96,60

1

2

Gunting

58

96,60

2

3

Teloyo

29

96,60

1

4

Jelobo

30

100

0

5

Pandanan

30

100

0

6

Lumbungkerep

30

100

0

7

Bener

32

94,11

1

8

Ngreden

62

96,80

2

9

Sidowarno

252

93,30

9

JUMLAH

558

96,30

16

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II Tahun 2015

Tabel 14 dan Tabel 15 menunjukkan bahwa kejadian DBD terbanyak di Desa Sidowarno, Gunting dan Ngreden. Desa Sidowarno ABJ sudah 93,30%, tapi kejadian DB tertinggi. Berarti memang kesadaran masyarakat pada umumnya untuk melakukan PSN belum maksimal sehingga perlu kerjasama berbagai pihak untuk saling mengingatkan, memantau, dan mengawasi lingkungan sekitar.

 

  1. c.       Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Kesehatan Lingkungan memegang peranan yang penting dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat utamanya dalam pencegahan, pemberantasan atau pembatasan penyakit menular. Seperti dikemukakan oleh Bloem faktor lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kesakitan pada komunitas, sehingga kejadian penyakit menular yang terjadi di Wonosari II dapat dikatakan terkait erat dengan kesehatan lingkungan. Hasil kegiatan Program Kesling dapat dilihat pada Tabel 16. di bawah ini.

Tabel 16. Cakupan Akses Air Bersih di Wonosari II Tahun 2015

 

No

DESA

KK

 

AKSES AIR BERSIH

SARANA AIR BERSIH

 

Dipe

rik

sa

%

Le-

deng

SPT

SGL

PAH

Ke

mas

an

PMA

Le-

deng

SPT

SGL

PAH

Ke

mas

an

Lain

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

 

1

Kingkang

1393

1393

100

0

513

1053

0

0

0

1393

0

340

880

0

0

0

 

2

Gunting

1442

1442

100

0

488

1113

0

0

0

1442

0

329

954

0

0

0

 

3

Teloyo

1310

1310

100

0

512

799

0

0

0

1310

0

511

798

0

0

0

 

4

Jelobo

1241

1241

100

0

337

864

0

0

0

1241

0

377

904

0

0

0

 

5

Pandanan

1260

1260

100

0

377

883

0

0

2

1260

0

316

852

0

0

0

 

6

Lumbungkerep

1083

1083

100

0

249

834

0

0

1

1083

0

68

817

0

0

0

 

7

Ngreden

1012

1012

100

0

173

839

0

0

6

1012

0

157

758

0

0

0

 

8

Bener

725

725

100

0

377

371

0

0

0

725

0

354

348

0

0

0

 

9

Sidowarno

1489

1489

100

0

804

914

0

0

0

1489

0

575

685

0

0

0

 

 

10955

10955

100

0

3830

7928

0

0

9

10955

0

3027

6996

0

0

0

 

 

Sumber: Unit Kesehatan Lingkungan Puskesmas Wonosari II  2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                               

 

Tabel 16. di atas menunjukkan bahwa sumber air bersih mudah diakses masyarakat yang dipantau. Pemantauan yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa 100% subyek memiliki akses ke air bersih. Namun demikian perlu pula dilakukan upaya-upaya peningkatan kualitas sumber air bersih yang dipergunakan masyarakat karena sumber air bersih yang diakses seluruh sampel adalah sumur gali yang memerlukan pemantauan secara khusus karena mudah tercemar oleh limbah rumah tangga.

Data pemeriksaan kualitas sumber air bersih menunjukkan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan hanya sebanyak 21,67% dari seluruh sampel. Kontaminan utama adalah ditemuinya bakteri koliform di dalam air bersih sampel yang menunjukkan bahwa sumber air bersih tersebut tercemar limbah rumah tangga. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun semua penduduk memiliki akses namun sumber yang diakses belum berkualitas. Secara langsung maupun tidak langsung, kondisi ini menyebabkan pula peningkatan risiko penularan penyakit baik soil born disease maupun water born disease.

Kualitas air bersih yang ada di Wonosari II dinyatakan kurang baik karena adanya kontaminan yang berasal dari limbah rumah tangga. Data kepemilikan sarana sanitasi dasar berupa jamban, tempat sampah dan SPAL ditunjukkan pada Tabel 17. di bawah ini.

No

DESA

JUMLAH KK

JAMBAN

 

TEMPAT SAMPAH

 

SPAL

 

KK DIPERIKSA

KK MEMILIKI

JUMLAH SEHAT

% MEMILIKI

% SEHAT

KK DIPERIKSA

KK MEMILIKI

JUMLAH SEHAT

% KK MEMILIKI

% SEHAT

KK DIPERIKSA

KK MEMILIKI

JUMLAH SEHAT

% KK MEMILIKI

% SEHAT

1

2

3

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

1

Kingkang

1393

1393

724

524

52

38

1393

1393

1393

100

100

1393

901

901

81

81

2

Gunting

1442

1442

528

547

37

38

1442

1442

1442

100

100

1442

911

911

84

84

3

Teloyo

1310

1310

629

548

48

42

1310

1310

1310

100

100

1310

852

852

72

72

4

Jelobo

1241

1241

522

535

42

43

1241

1241

1241

100

100

1241

829

829

73

73

5

Pandanan

1260

1260

521

502

41

40

1260

1260

1260

100

100

11260

749

749

86

86

6

Lumbungkerep

1083

1083

380

380

35

35

1083

1083

1083

100

100

1083

578

578

74

74

7

Ngreden

1012

1012

495

448

49

44

1012

1012

1012

100

100

10112

643

643

71

71

8

Bener

725

725

362

312

50

43

725

725

725

100

100

725

473

473

75

75

9

Sidowarno

1489

1489

880

600

59

40

1489

1489

1489

100

100

1489

929

929

72

72

JUMLAH

10995

10995

5041

4396

46

40

10995

10995

10995

100

100

10995

6865

6865

76

76

Sumber: Unit Kesehatan Lingkungan Puskesmas Wonosari II, 2015

Tabel 17. menunjukkan bahwa 46% RT memiliki jamban sebagai sumber utama kontaminan dengan 60% diantaranya tidak sehat. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan intensif oleh petugas Puskesmas Wonosari II yang terkait dengan kesehatan lingkungan agar sumber air bersih yang digunakan dan jamban serta sanitasi dasar rumah tangga yang lain dapat saling bersinergi untuk mewujudkan lingkungan hidup yang lebih sehat.

Sebagai instansi kesehatan, Puskesmas Wonosari II tentu saja bergelut dengan limbah medis maupun limbah rumah tangga yang memerlukan perlakuan berbeda. Limbah medis dibedakan menjadi dua yaitu limbah yang infeksius dan non infeksius, limbah padat maupun non padat. Penanganan limbah medis khususnya limbah tajam saat ini dilaksanakan dengan mengumpulkan limbah ke dalam safety box, dikumpulkan kemudian diambil oleh petugas. Limbah tajam berupa spuit injeksi tidak sebanyak dulu mengingat sekarang kebijakan pengobatan menganjurkan pembatasan penggunaan injeksi secara ketat hanya kepada pasien yang membutuhkan.

 

  1. d.      Program Gizi

Gizi merupakan bahan bakar dan material penting dalam metabolisme normal manusia. Peran asupan gizi yang baik lebih penting lagi bagi bayi dan balita mengingat bahwa usia pertumbuhan dan perkembangan manusia mengalami masa keemasan pada kelompok usia tersebut. Oleh karena itu Program Gizi menjadi salah satu program pokok dalam kegiatan UKM Puskesmas Wonosari II.

Tabel 18. di bawah ini menunjukkan pencapaian Program Gizi berdasarkan indikator dampak.

 

Tabel 18. Pencapaian Hasil Kegiatan terhadap Indikator Dampak Program Gizi

Di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II tahun 2013 - 2015

 

No

Indikator

Target

2013

2014

2015

Ket

1

Status Gizi balita

 

 

 

 

 

 

Gizi buruk

< 1,5 %

0,5%

0,4%

0,5%

 

 

Gizi kurang

<13 %

1,2%

7,1%

5,6%

 

 

Gizi baik

>85%

96,9%

90,9%

87,5%

 

 

Gizi lebih

< 1,5%

1,1%

1,6%

1,4%

 

2

Anemia bumil <11 gr %

<40 %

-

17,2%

19,6%

 

 

LILA Bumil < 23,5 cm

<15 %

17,3%

18,7%

16,3%

 

3

Kasus kekurangan vitamin A

<0,005%

0

0

0

 

4

Kec. Bebas KEP total < 15 %

<100%

0

0

0

 

Sumber Data: Program Gizi Puskesmas Wonosari II, 2015

Data Tabel 18. di atas menunjukkan pada tahun 2015 ada peningkatan status gizi buruk balita bila dibandingkan tahun 2014. Terjadi penurunan status gizi kurang dan gizi lebih pada tahun 2015 bila dibandingkan dengan tahun 2014. Kejadian balita gizi buruk yang masih terdapat di wilayah kerja Puskesmas Wonosari II perlu ditindaklanjuti agar kekurangan gizi tidak berdampak buruk pada pertumbuhan balita penderitanya. Untuk menindaklanjuti kejadian ini, telah diupayakan pemberian makanan tambahan (PMT), penyuluhan gizi, pelacakan penyebab kekurangan gizi terutama gizi buruk, dan upaya pencegahannya.

Penyebab utama kekurangan gizi dari hasil pelacakan didapati pola makan yang kurang tepat sehingga pada saat kunjungan telah dilakukan penyuluhan langsung kepada keluarga penderita. Selain pola makan, didapati pula penyebab gizi kurang dan gizi buruk disebabkan oleh penyakit jantung, kelainan kongenital, dan gangguan perkembangan. Kasus lain dijumpai karena keluarga balita merupakan penyandang masalah sosial utamanya kemiskinan. Oleh karena itu, program pelayanan kesehatan memberikan pelayanan gratis kepada pasien gizi buruk terutama bila memiliki kartu jaminan kesehatan misalnya Jamkesmas, Jamkesda, dan peserta BPJS.

Penilaian perkembangan dan pertumbuhan balita sebagian besar diamati dan dicatat di posyandu di  dekat balita bertempat tinggal.

Cakupan program gizi balita dianggap sudah memenuhi target yaitu program K/S sudah mencapai 100%. Namun, hasil pemantauan pertumbuhan balita menunjukkan belum memenuhi target yang  diharapkan. Hal ini ditunjukkan dari hasil pencapaian kelangsungan penimbangan dan tingkat partisipasi masyarakat D/K dan D/S baru mencapai 80,46 % dari target 85 %, hasil penimbangan N/D sebesar 76,01 % dari target 85 %, hasil pencapaian program N/S sebesar 61,16 % dari target 65 %.

Hasil penimbangan yang belum memenuhi target dapat disebabkan oleh:

  1. Tidak semua balita datang ke Posyandu dan ditimbang, yang dapat diakibatkan oleh kurangnya kesadaran akan pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak atau sebab lainnya misalnya kesibukan orang tua sehingga tidak bisa membawa anaknya ke Posyandu terutama petani di musim panen dan tanam padi.
  2. Balita sudah PAUD

 

Anemia zat besi merupakan salah satu penyebab terbanyak risiko tinggi pada ibu hamil. Anemia dipengaruhi banyak hal pada ibu hamil misalnya asupan makanan kaya besi kurang, penyakit laten misalnya kecacingan, dan terjadinya hemodilusi pada ibu hamil. Cakupan pemberian tablet Fe  pada bumil pada tahun 2015, pemberian tablet tambah darah  Fe 1 belum memenuhi target yaitu 90,50 % dari target 95 % sedang untuk pemberian tablet Fe 3 belum memenuhi target yaitu mencapai 87,01 % dari target 95 %. Belum tercapainya cakupan Fe 1 dan Fe 3 sesuai target dapat disebabkan oleh :

  1. Pencatatan register  pemberian Fe 1 dan Fe 3 tidak berjalan dengan baik
  2. Kurangnya kesadaran ibu akan pentingnya tablet tambah darah untuk kesehatannya dan tidak terpantaunya minum tablet tambah darah oleh ibu
  3. Rutinitas ibu minum tablet tambah darah tidak terlaksana yang dapat diakibatkan karena rasa tablet yang kurang enak sehingga ibu tidak mau meminumnya.

Kejadian anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang janin selama kehamilan dan risiko terjadinya perdarahan pada persalinan. Gangguan tumbuh kembang janin dapat menghasilkan output kehamilan yang tidak optimal yang dapat berdampak pada menurunnya kualitas sumberdaya manusia di masa depan. Terjadinya risiko perdarahan pada ibu bersalin dapat berdampak pada morbiditas dan mortalitas ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mempengaruhi pula pembangunan kualitas sumberdaya manusia dimana manusia yang baru lahir tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian ibunya setelah dilahirkan.

Kejadian anemia bumil ditunjukkan pada Gambar 6. berikut ini.

Gambar  6. Diagram Anemia pada Ibu Hamil di Wonosari II tahun 2015

 

Sumber Data: Program Gizi Puskesmas Wonosari II, 2015

Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil berdasarkan pemeriksaan pada bumil sebanyak 20 orang (2,67%) dari jumlah sasaran 550 bumil menunjukkan kadar Hb normal ≤ 11 gr% sedangkan yang kadar Hb ≥ 11gr% sebanyak 97,33%. Cakupan pemeriksaan hb hanya mencapai 20% sasaran bumil. Rendahnya cakupan ini dapat mempengaruhi hasil dan interpretrasi data kejadian anemia pada bumil. Hal ini dapat ditindaklanjuti dengan kebijakan khusus misalnya kewajiban pemeriksaan Hb bagi bumil dengan K1 baik di puskesmas induk, puskesmas pembantu maupun puskesmas keliling atau pemantauan pemeriksaan Hb di instansi kesehatan swasta. Salah satu penyebab terjadinya pemantauan yang kurang terhadap kadar Hb bumil adalah bumil memilih sarana swasta untuk mengontrolkan dan mejalani kehamilan dan persalinannya.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, seorang bayi juga dipengaruhi oleh pola asuh ibunya terutama dalam pemberian air susu ibu (ASI). Keuntungan pemberian ASI bagi bayi sudah banyak dibuktikan oleh penelitian ilmiah. Disamping harganya murah, gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi, juga akan meningkatkan relasi antara ibu dan bayi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan bayi di masa depan. Data hasil kegiatan pemberian ASI menunjukkan bahwa 80% ibu menyusui sudah melakukan ASI ekklusif dan 20% tidak memberikan ASI eksklusif.

Pemantauan pemberian ASI Eksklusif belum mencapai target yang diharapkan (80%). Hal ini dapat disebabkan antara lain :

  1. Kesibukan ibu , terutama ibu bekerja namun belum bersedia memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dengan berbagai alasan
  2. Faktor sosial budaya di masyarakat misalnya memberikan ASI sudah tidak jaman lagi, mempengaruhi keindahan tubuh dalam hal ini payudara dan lain sebagainya

Untuk mendukung peningkatan pemberian ASI Eksklusif, perlu ditingkatkan kembali upaya edukasi sejak dini melalui keterpaduan Program Promosi Kesehatan, KIA maupun Program Gizi. Kegiatan ini perlu dilaksanakan pula secara lintas sektor mengingat bahwa saat ini kesadaran dan kesetaraan gender baik di instansi pemerintah maupun masyarakat sudah meningkat sehingga membuka peluang bagi sektor kesehatan untuk meningkatkan cakupan-cakupan programnya.

 

  1. e.       Pelayanan kesehatan keluarga miskin

Puskesmas Wonosari II sebagai organisasi di bawah Pemerintah Daerah Klaten, telah memperoleh mandat untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin (maskin) yang menjadi tanggung jawab pemerintah setempat. Program pelayanan kesehatan kepada maskin dilaksanakan melalui Program Jamkesmas termasuk Program Keluarga Harapan /PKH. Program pelayanan kesehatan miskin tersebut diselenggarakan dengan gratis karena telah didanai oleh program yang bersangkutan.

 Kunjungan pasien umum merupakan pengunjung utama di Puskesmas Wonosari II tahun 2015, sedang pasien dengan Jamkesmas merupakan pengunjung terbanyak pasien dengan penjaminan di Puskesmas Wonosari II. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin di Wonosari II dinilai cukup layak dibuktikan dengan tidak adanya keluhan tentang layanan yang masuk baik langsung maupun tidak langsung (melalui kotak saran). Hasil survei kepuasan pelanggan di Puskesmas Wonosari II pada tahun 2015 secara umum menyatakan ”Puas”. Meskipun survei hanya dilakukan oleh internal Puskesmas Wonosari II. Hasil ini dapat menggambarkan persepsi pengunjung Puskesmas Wonosari II secara umum.

 

  1. f.       Pembiayaan kesehatan

Organisasi dapat berjalan dengan baik apabila terdapat pembiayaan yang cukup untuk melaksanakan kegiatannya, meskipun pembiayaan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi jalannya organisasi. Demikian pula Puskesmas Wonosari II dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya dengan lancar apabila didukung dana yang cukup.

Sebagaimana organisasi yang lain, di Puskesmas Wonosari II pun terdapat dua bagian besar yaitu bagian unit yang merupakan cost center (hanya menggunakan anggaran) dan bagian unit revenue center. Bagian cost center di antara proses manajemen dan upaya kesehatan masyarakat. Bagian revenue center yaitu unit balai pengobatan, laboratorium, dan farmasi. Data pendapatan ada di Puskesmas Wonosari II tahun 2015 ditunjukkan pada Tabel 19. berikut ini.

Tabel 19 Pendapatan Puskesmas Wonosari II tahun 2015

No

Klasifikasi

Retribusi

Tindakan Medis

Capeng

Jumlah

1

 Pusk,Induk

69.527.500

47.512.500

1.690.000

118.730.000

   2

Pustu Gunting

3.038.000

-

-

3.038.000

   3

Pustu Jelobo

1.900.500

-

-

1.900.500

4

Pustu Sidowarno

2.698.500

-

-

2.698.500

5

PKD Kingkang

2.499.000

-

-

2.499.000

6

PKD Gunting

2.313.500

-

-

2.313.500

7

PKD Teloyo

2.460.500

-

-

2.460.500

8

PKD Jelobo

3.643.500

-

-

3.643.500

9

PKD Pandanan

2.124.500

-

-

2.124.500

10

PKD Lumbungkerep

2.096.500

-

-

2.096.500

11

PKD Bener

2.558.500

-

-

2.558.500

12

PKD Ngreden

2.303.000

-

-

2.303.000

13

PKD Sidowarno

2.159.500

-

 

2.159.500

 

Jumlah

99.323.000

47.512.500

1.690.000

              148.525.500

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II 2015

 

Tabel 19. di atas menunjukkan pendapatan Puskesmas Wonosari II sudah memenuhi  bahkan melampaui target pendapatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan KLaten dalam perencanaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada APBD Kabupaten Klaten tahun 2015 sebesar Rp 92.500.000 (Retribusi, Tindakan Medis, Capeng). 

Dana operasional yang didapatkan oleh Puskesmas Wonosari II untuk membiayai kegiatan-kegiatannya didapatkan dari berbagai sumber. Sumber dan besarnya dana di Puskesmas Wonosari II tahun 2015 ditunjukkan pada Tabel 20 berikut ini.

 

Tabel 20 Sumber Dana, Besar Dana dan Penyerapannya

di Puskesmas Wonosari II tahun 2015

No

Sumber Dana

Anggaran

Realisasi

%

1

Dana JKN

1.091.810.000

897.539.490

82,21%

2

BOK 2015

95.966.000

95.966.000

100 %

5

Operasional Pendapatan Puskesmas

92.500.000

148.525.500

160,57%

4

RAK

36.697.088

34.835.133

94,93%

 

 

 Jumlah

1.316.973.088

1.176.866.123

89,36 %

Sumber Data: Puskesmas Wonosari II 2015

Tabel 20. di atas menunjukkan bahwa pendanaan untuk melaksanakan kegiatan di Puskesmas Wonosari II baik UKM, UKP, maupun manajemen, dapat mencukupi bahkan berlebih sehingga kegiatan dapat untuk dilaksanakan, namun sebagian dana tidak terserap. Pendanaan bersumber dari BOK, RAK, Retribusi, Tindakan Medis, Capeng. Selain itu ada dana JKN terutama Belanja Modal yang belum terserap dapat  dipergunakan kembali pada tahun anggaran berikutnya.

Berbagai tantangan akan dihadapi Puskesmas Wonosari II dari segi pembiayaan yaitu diantaranya:

  1. Perubahan Perda yang baru yaitu Perda no 18/2011 tentang Tarif Retribusi Pelayanan di Puskesmas.
  2. Perubahan kebijakan pendanaan melalui dana JKN

Perubahan-perubahan ini dapat menjadi faktor pendorong ataupun faktor penghambat kegiatan Puskesmas Wonosari II. Penyelenggaraan keuangan di Puskesmas saat ini di arahkan agar Puskesmas mampu merencanakan, mengelola dan mempertanggungjawabkan penggunaan keuangannya sendiri. Hal ini menjadi faktor pendorong dimana pengelolaan keuangan seperti di atas menjamin keleluasan Puskesmas untuk mengelola dananya sendiri sesuai aturan-aturan yang ada dibawah pengawasan, arahan dan pengendalian oleh Dinas Kesehatan. Namun demikian hal ini juga menjadi tantangan dimana tanggungjawab keuangan di Puskesmas menjadi lebih besar.


1 Comments

Richardplona
Submitted On 10 Sep 2017 at 08:12 pmReply ↓
internet addiction statistics alcohol rehab facilities hydrocodone withdrawal headache alcohol rehab centers crystal meth symptoms

Leave a Reply

Required fields are marked *

Let me know if it gets a reply
Wonosari II
Alamat : klaten
Telp : 085700004232

Search