Date : 24 Aug 2015 on 12:15 pm | Comments : (0)

 

Kegiatan di luar gedung yang menjadi unggulan di puskesmas Juwiring yaitu dengan melakukan pembinaan dan percontohan tentang Tanaman Obat Keluarga.

Wilayah Juwiring merupakan wilayah pedesaan, dimana masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani. Keaadaan lahan kebun atau pekarangan yang luas memicu untuk menggalakan tanaman obat keluarga di wilayah Juwiring. Banyak Keanekaragaman hayati termasuk juga keanekaragaman obat tradisional atau sering juga disebut tananaman herbal yang tumbuh subur tetapi masyarakat sekarang kebanyakan belum tahu manfaat apa saja yang diperoleh dari tanaman herbal untuk kesehatan.

Tanaman obat merupakan salah satu unsur penting dalam upaya pelaksanaan pengendalian kesehatan. Tanaman obat sudah dikenal sejak dahulu dalam pengobatan tradisional, namun pengunaannya sebagai bahan baku belum dimanfaatkan secara optimal, sedangkan upaya yang telah dilakukan masih tertuju kepada khasiat dan kegunaannya saja.

Hal ini didukung oleh kebijakan Departemen Kesehatan RI tentang pengobatan tradisional seperti yang tercantum dalam UU No 23 tahun 1992 pasal 47 tentang pengobatan tradisional dan dalam Kepmenkes No. 1076/SK/VII/2003 tentang peyelenggaraan pengobatan tradisional yang menggunakan tanaman obat-obatan. Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan kawasan yang kaya dengan keaneka ragaman hayati. Sampai saat ini telah diketahui sekitar 30.000 jenis tumbuhan yang tumbuhan liar maupun yang sudah dibudidayakan, sebagai tanaman obat tradisonal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM, 2003).

Program pemerintah  Kabupaten  yaitu Gerakan Pembangunan Desa Mandiri (Gerbang Dema) salah satu pilarnya adalah memprioritaskan pembangunan yaitu peningkatan pertanian secara luas dan usaha pemberdayaan ekonomi keluarga,  pengembangan tanaman obat keluarga melalui kelompok ibu-ibu Dasa Wisma, PKK di tingkat ibu-ibu rumah tangga dan  dikelola oleh masing-masing desa, salah satu program desa yang dikembangkan oleh ibu-ibu PKK dan Karang Taruna  desa Ketitang yang merupaka Desa Binaan adalah tanaman obat keluarga (TOGA).

Pengembangan TOGA bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara tradisional atau secara herbal dan bisa juga meningkatkan pendapatan keluarga.

Toga ialah tanaman Obat Keluarga, dahulu disebut sebagai “Apotik Hidup”. Dalam pekarangan atau halaman rumah di tanam beberapa tanaman obat yang digunakan secara empirik oleh masyarakat untuk mengatasi penyakit atau keluhan- keluhan yang dideritanya. Beberapa tanaman obat telah dibuktikan efek farmakologinya pada hewan  dan beberapa tanaman telah dilakukan uji klinik.

Upaya pelayanan pengobatan tradisional dengan obat tradisional berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Sedang pada tingkat pertama fasilitas pelayanan, tingkat rujukan pertama dan rujukan yang lebih tinggi upaya pelayanan kesehatan dilakukan melalui pelayanan kesehatan formal. 

Hingga sekarang, pengobatan tradisional masih diakui keberadaannya di kalangan masyarakat luas. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membina dan mengembangkannya. Salah satu pengobatan tradisional yang sedang trend saat ini adalah ramuan tanaman obat secara empirik, ramuan tradisional  dengan tanaman obat paling banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan ramuan tradisonal tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi juga untuk menjaga dan memulihkan kesehatan .

Diantara tumbuhan obat tradisional banyak yang hampir punah, sehingga kalau sewaktu-waktu dibutuhkan sulit diperoleh. Padahal khusus meningkatkan penggunaan tumbuhan obat tradisional, pemerintahan telah menggalakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang telah dimasyarakatkan oleh Lembaga Tanaman Obat Keluarga yang telah dimasyarakatkan oleh  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam hal ini antara lain oleh PKK yang sekaligus berfungsi menghijaukan lingkungan atau melestarikan sumberdaya hayati. Namun program TOGA nampaknya masih belum berhasil, sehingga perlu ditingkatkan permasyarakatannya.

Berikut ini adalah aneka jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat alami, sangat cocok ditanam di pekarangan atau halaman rumah sebagai persediaan dalam menjaga kesehatan keluarga.

1.Temu lawak (Curcuma Xanthorhiza Roxb)

 

Manfaat temulawak untuk mengobati sakit kuning, diare, maag, perut kembung dan pegal-pegal. Terakhir juga bisa dimanfaatkan untuk menurunkan lemak darah, mencegah penggumpalan darah sebagai antioksidan dan memelihara kesehatan dengan meningkatkan daya kekebalan tubuh.

2.Belimbing Wuluh

 

Buahnya bermanfaat untuk gusi berdarah, sakit gigi, disamping buah daun belimbing wuluh bisa digunakan untuk param sakit rematik, penyakit kulit, dan juga bermanfaat untuk jamu pegel linu.


3.Beluntas

 

Secara tradisional daun beluntas digunakan sebagai obat untuk menghilangkan bau badan, obat turun panas, obat batuk, dan obat diare. Daun beluntas yang telah direbus sangat baik untuk mengobati sakit kulit. Disamping itu daun beluntas juga sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lalapan.

4.Kumis Kucing

Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga bermanfaat untu pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis.

 

 

 


Leave a Reply

Required fields are marked *

Let me know if it gets a reply
Juwiring
Alamat : Jln. Tanjung-Juwiring, Tanjung, Juwiring, Klaten 57472
Telp : 0272-552770

Recent Comments

    Search