Date : 25 Aug 2017 on 10:44 am | Comments : (0)

Secara umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein (MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat atau gizi buruk.

Selain malnutrisi energi-protein di atas, ada juga gangguan pertumbuhan yang  diistilahkan dengan gagal tumbuh. Yang dimaksud dengan gagal tumbuh adalah bayi/anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna dibanding anak sebayanya. Untuk mudahnya, pertumbuhan anak tersebut ada di bawah kurva pertumbuhan normal.

Gebyarkan Kembali Posyandu Balita

Cara termudah untuk mendeteksi status gizi di masyarakat dapat dilakukan melalui penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran  Tinggi Badan (TB) di Posyandu. Status gizi balita dipantau dengan KMS(Kartu Menuju Sehat). KMS balita berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/RS.

Berat badan yang dicantumkan di KMS akan terlihat sesuai dengan pita warna yang ada, sebagian berat badan balita ada yang berada pada pita warna hijau dan juga kuning bahkan ada yang sebagian berada pada pita warna merah atau tepatnya di Bawah Garis Merah (BGM). Berat badan yang berada pada pita warna hijauselalu saja dipersepsikan dengan gizi baik, sementara berat badan yang berada pada pita warna kuning merupakan warning (peringatan) kepada ibunya agar lebih berhati-hati jangan sampai masuk pada berat badan di BGM, karena apabila anak telah berada di BGM pada KMS, maka anak balita tersebut bisa cenderung di vonis (padahal belum tentu), mengalami gizi buruk. Status balita BGM, menjadi perhatian ibu dan petugas kesehatan agar segera bertindak, mengobservasi lebih dalam status kesehatan balita tersebut dan segera melakukan langkah intervensi.

 

Yang menjadi permasalahan di wilayah kerja binaan Puskesmas Cawas II adalah masih banyaknya anak balita yang tidak datang ke posyandu secara rutin  untuk menimbang berat badannya. Terutama yang di pelosok/terpencil. Di Cawas II angka kehadiran balita ditimbang  rata-rata masih di bawah 70%. Bahkan di desa Japanan, balita yang datang ke posyandu dan ditimbang masih di bawah 50%. Ini desa yang paling rendah aktifitas Posyandunya. 

Oleh karena itu, Puskesmas mengajak kades dan tokoh masyarakat serta PKK agar melakukan pemantauan posyandu serta menggalakkan keaktifannnya melalui kegiatan gebyar posyandu, dengan upaya-upaya yang inovatif dan tidak membosankan, agar  orang tua dan balitanya tertarik berkunjung ke posyandu. Dalam acara-acara baksos kesehatan yang sering dilakukan Dinas Kesehatan. bahkan bapak bupati sendiri atau ibu. sering memberikan contoh bagaimana melakukan penimbangan balita dilanjutkan imunisasi. Hal ini sebaiknya juga ditiru oleh para camat/kades/lurah.Keaktifan posyandu sangat membantu dalam pelacakan adanya balita gizi buruk.

Sikap Responsif, bukan Reaktif

Kasus kurang gizi dan gizi buruk dapat disebabkan oleh asupan makanan anak yang kurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk melakukan aktivitas dan berkembang. Hal ini dapat terjadi karena pola asuh dan asupan makanan yang salah, seperti ibu yang sibuk bekerja di kebun/ladang atau di suatu tempat, sehingga anak tidak terawat (biasa terjadi di pedesaan). Keadaan ini diperberat dengan kebiasaan seperti memberikan makanan padat sebelum usia 6 bulan dan kadang tidak hygienis (istilahnya makanan sampah atau "junk food"). 

Idealnya bila diketahui penyebab utama dari adanya balita gizi buruk kelompok masyarakat secara bersama bergotong royong menekan penyebab masalah gizi. Masyarakat diharapkan dapat memobilisasi kemampuan yang ada disekitarnya untuk penanggulangan Gizi Buruk, digerakkan oleh petugas gizi puskesmas melalui Posyandu.  Bila terjadi karena factor kemiskinan keluarga yang mampu bisa menjadi orang tua asuh, mencari peluang kerja untuk orang tuanya. 

Sementara yang dilakukan Dinas Kesehatan bekerjasama dengan puskesmas adalah membantu memberikan PMT hingga BB anak yang bersangkutan normal dan pemberian pengetahuan kepada keluarganya  bagaimana cara memasak dengan pemberian makanan mengandung tinggi kalori dan protein dengan aneka bahan makanan setempat sehingga kekurangan BB terpenuhi dan dapat meningkatkan tinggi badan.

Untuk itu maka puskesmas Cawas II mengadakan Posyandu BGM 2T setiap Juamt Pon jam 08.00 WIB. Adapun kegiatannya antara lain pengukuran PB/TB , penimbanga BB, pemberian PMT, penyuluhan/ diskusi, pemeriksaan kesehatan dan konseling serta pemberian pengobatan jika balita sakit.


Leave a Reply

Comments will be validated. Required fields are marked *

Let me know if it gets a reply
Cawas II
Alamat : Jl. Raya Cawas - Karangdowo KM.4 Japanan Cawas Klaten
Telp : 085868822917

Search

Recent Comments

    SELAMAT DATANG DIPUSKESMAS CAWAS II

    "MELAYANI SEPENUH HATI"